Pages

About

Selasa, 26 Juni 2012

Makna Korban Dalam Perjanjian Lama dan Penggenapan Dalam Perjanjian Baru


DAFTAR ISI

BAB I      PENDAHULUAN
LatarBelakang……………………………………....... 1
Metode Penafsiran……………………………......... 2
Tema Besar Kitab Imamat…………...................... 3

BAB II     Makna Korban Dalam Perjanjian Lama dan
Penggenapan Dalam Perjanjian Baru
Pengertian Korban Dalam PL………………...... 6
Bentuk-Bentuk Korban Dalam PL…………….. 7
Mengapa Allah Menuntut Korban Dalam PL..8
Makna Korban Dalam Perjanjian Baru .... 9
Bentuk-Bentuk Persembahan Korban Dalam PB
Dan Penggenapan dari Makna Korban PL .... 10

BAB III   KESIMPULAN DAN APLIKASI ............... 12


PENDAHULUAN

Kitab Imamat adalah kelanjutan dari kitab Keluaran yang merupakan bagian ketiga dari 5 kitab Musa (Pentateukh: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan). Pasal penutup di kitab Keluaran berakhir dengan konstruksi tabut perjanjian (pasal 25-40). Permulaan Imamat ialah awal yang bersambung dengan apa yg menjadi akhir dari kitab Keluaran, yaitu penjelasan korban-korban yang dilakukan di tempat maha suci (pasal 1-7). Dengan demikian, penulis akan membahas dalam paper ini tentang “Makna Korban Perjanjian Lama dalam Kitab Imamat Dan Penggenapan Makna Korban Dalam Perjanjian Baru”.

Latar Belakang

Imamat terutama terdiri dari hukum-hukum dan peraturan-peraturan, tetapi terdapat kerangka cerita dan ilustrasi yang menunjukkan bahwa semua peraturan ini cocok dengan sejarah yang sebenarnya. Secara umum kitab itu terbagi atas dua bagian, pasal-pasal mengenai Hari Penebusan Dosa terdapat di bagian tengah. Bagian pertama adalah mengenai pemulihan hubungan dengan Allah yaitu peraturan mengenai korban dan penyucian. Bagian akhir adalah tentang hidup sebagai umat Allah.[1] Sebagian besar hukum dalam Imamat adalah mengenai upacara keagamaan, tetapi terdapat juga hukum mengenai kebersihan dan sikap moral yang serupa dengan Sepuluh Perintah. Tidak terdapat perbedaan yang nyata antara hukum-hukum yang berbeda-beda itu; semuanya mencerminkan maksud Allah terhadap bangsa Israel dan semuanya harus dipatuhi. Dalam Perjanjian Baru pengorbanan Kristus membawa penyucian yang menyeluruh, oleh karena itu hukum-hukum mengenai korban dan upacara penyucian tidak lagi berlaku. Jika demikian, semua hukum itu sangat berguna untuk menjelaskan apa arti kematian Kristus bagi kita.


Metode Penafsiran

     Dalam metode penafsiran ini, penulis mengambil metode penafsiran yaitu Teologi Perjanjian Lama yang kanonik multipleks. Metode ini merupakan sebuah gagasan dari Gerhard F. Hasel.[2] Dalam metode ini ada beberapa hal yang dipaparkan beberapa gagasan dan usulan dalam metode penafsiran ini, yaitu:
Pertama, Isi teologi Perjanjian Lama merupakan Perjanjian Lama yang kanonik.
Kedua, Teologi Perjanjian Lama tidak berpusat pada satu konsep tetapi bermacam-macam tema, motif dan konsepsinya.
Ketiga, Tujuan akhir dari pendekatan kanonik terhadap Perjanjian Lama ialah menerobos aneka teologi tentang kitab-kitab secara tersendiri atau kelompok tulisan serta bermacam-macam tema longitudinal sampai pada kesatuan dinamis yang mengikat semua teologi dan tema itu menjadi satu.
Keempat, Teologi Perjanjian Lama bukan teologi Israel kuno tetapi merupakan bagian dari keseluruhan yang lebih luas yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Menurut John Rogerson,[3] yang menyatakan bahwa Keseluruhan pandangan yang harus terbuka haruslah mempunyai hak untuk megucapkan kata terakhir dalam penafsiran. Maksudnya ialah dalam ambisi kita adalah mencari makna, intisari, pesan, fungsi, dan maksud yang terkandung dalam ayat tersebut dan penggenapan apa yang ada dalam perjanjian Lama.  Dengan demikian, dalam metode ini membahas tentang pengertian dalam perjanjian dalam tema tersebut kemudian makna korban dalam ayat tersebut untuk masa kini dan pengggenapannya dalam Perjanjian Baru.

Tema Besar dalam Kitab Imamat

Dalam hal ini penulis mencoba memaparkan tema besar dalam kitab imamat itu sendiri dalam Tafsiran Masa Kini Jilid I menjelaskan beberapa tema pokok dalam kitab Imamat tersebut, yaitu:[4]
Pertama, Kesucian Allah
Sebagian besar kitab Imamat berisi hukum dan adat di dalam pujian bangsa Israel terhadap Tuhannya. Juga di dalamnya berisi deskripsi korban dan hukum mengenai makanan dan kesucian seksual. Pusat dari semuanya hal yang dijelaskan ini ialah keberadaan Allah sebagai Allah orang Israel dan kesucian Allah. Hal ini dijelaskan berulang kali di dalam kitab ini (Imamat 18:2, 4, 5; 19:3-4, 10; 20:7) “Akulah TUHAN, Allahmu” dan juga Tuhan ialah Allah yang suci (Imamat 11:45, juga lihat 19:2, 20:26) “… jadilah kudus, sebab Aku ini kudus.”
Kedua, Jenis korban
Kita mengenal beberapa jenis korban di Imamat 1-7. Yang sangat menarik dari jenis korban ini ialah Alkitab tidak menjelaskan apa yang menjadi kepentingan dari korban ini, tetapi Alkitab menjelaskan secara rinci ada apakah yang harus dilakukan dalam korban. Korban tersebut ialah: koran bakaran (Im 1), korban sajian (Im 2, 6:14-23), korban keselamatan (Im 3, 7:11-38), korban penghapus dosa (Im 4:1-5.13, 6:24-30), korban penebus salah (Im 5:14-6.7,7:1-10).
Ketiga, Perjanjian
Perjanjian Lama kaya dengan perjanjian yang dilakukan antara Allah dengan umatnya. Walaupun konsep perjanjian tidak dibahas di dalam kitab Imamat, tetapi hadirnya jenis korban ialah untuk melihat kembali hubungan antara pemberi janji dengan penerima janji. Korban ini ialah persembahan dari penerima janji kepada pemberi janji. Korban ini juga merupakan wujud nyata kasih setia penerima janji kepada pemberi janji.
Keempat, Keimaman
Sesuai dengan namanya, kitab ini berhubungan erat dengan keimaman dan jabatan imam. Isi dari kitab ini ialah instruksi yang diberikan kepada imam dan bangsa Israel dalam kehidupan ibadah mereka. Sebagai imam, yang juga berada di sekitar tempat kudus Allah:
1.mereka harus kudus dan menjadi contoh dari bangsa Israel.
2.mereka harus kudus karena merekalah yang membawa korban kudus untuk penghapus dosa Israel.
3. mereka harus kudus karena mereka melindungi kekudusan Allah di dalam perkemahan.
4. Kesucian
Seperti Tuhan yang adalah suci, dan imam yang melindungi kesucian Allah, bangsa Israel dituntut untuk juga suci dengan menjalankan berbagai macam upacara adat. Mereka harus suci misalnya dengan makanan yang dimakan (pasal 11), untuk wanita yang melahirkan (pasal 12), penyakit kulit dan kusta (pasal 13-14) dan lelehan tubuh baik itu untuk pria maupun wanita (pasal 15). Tuhan bukan saja menghendaki bangsanya sehat, tetapi juga menghendaki agar mereka menyucikan diri dari kebiasaan bangsa lain yang di luar Tuhan.
     Menurut Samin Sitohang mengenai tema umum kitab Imamat ialah memiliki tema pokok kitab Imamat ialah kekudusan.[5] Dalam anugerah-Nya Allah yang kudus telah menjadikan Israel sebagai umat-Nya, karena itulah, mereka juga harus kudus, “Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, kudus” (19:2; 1Pet.1:16). Kitab ini memberikan berbagai peraturan ibadah yaitu korban yang memungkinkan umat Israel layak datang ke hadirat Allah dan berbagai peraturan moral untuk menjadi pedoman bagi mereka supaya hidup selayaknya sebagai umat Allah, yang berbeda dari semua bangsa kafir lainnya.

BAB II
MAKNA KORBAN DALAM PERJANJIAN LAMA

Pengertian Korban Dalam Perjanjian Lama

     Dalam Ensiklopedia Alkitab masa kini, korban di artikan sebagai yang dibawa mendekat. Dari pengertian tersebut bisa dikatakan bahwa sesuatu yang diberikan mendekat kepada seseorang yang berhak menerimanya. Dalam kitan Imamat banyak dikatakan mengenai arti korban tersebut. Karena mereka penuh dosa dan selalu berbuat dosa, maka mereka memerlukan pendamaian dan penyucian bagi dosa dan segala kecemaran mereka. Karena itulah, peraturan mengenai korban ditempatkan di awal (imamat pasal 1-7), yaitu peraturan bagi umat dalam melakukan persembahan korban bakaran, korban sajian, korban keselamatan, korban penghapus dosa, dan korban penebus salah (1:1-6-6:7); dan peraturan bagaimana para imam harus melaksanakannya (6:8-7:38).
Allah melalui Musa kemudian meneguhkan lebih spesifik lagi berbagai jenis persembahan yang harus diberikan umat Israel sebagaimana diuraikan dalam kitab Imamat pasal 1 - 7.




Bentuk-Bentuk Korban Dalam PL

Dalam Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, korban dalam Perjanjian Lama dapat dikelompokkan, yakni:[6]
a. ’Ola,korban bakaran (Im.1: 1-17), sebagai lambang penderitaan sebagai hukuman karena dosa yang ditanggungkan atasnya, dengan makna membersihkan kehidupan orang yang memberi korban dalam ketaatan sebagai bau-bauan yang harum bagi Allah.
b. Minkha, yakni korban sajian (Im.2:1-16; 5:11-12), sebagai rasa syukur yang diberikan demi kemauan baik sebagai pengganti keseluruhan dirinya.
c. Khatta't, yakni korban penghapus dosa dan juga disebut sebagai ‘Asyam (korban penebus salah), yakni bilamana seseorang bersalah karena dianggap najis dari segi upacara agama atau berbuat dosa secara tidak sengaja (Im. 4: 2, 13, 22, 27).
d. Zevakh dan Selamin, yakni korban perdamaian atau korban keselamatan berupa pernyataan syukur atau sukarela kepada Allah (Im. 7: 12; 22: 29; Bil.6: 14; 15: 3, 8).
Perjanjian Lama juga mengenal berbagai jenis persembahan lainnya, seperti persembahan sulung atau buah sulung (Kej. 4:4; Im. 2: 12; Neh.10: 35), persembahan unjukan (Im. 6: 20; Bil. 5: 15), dan persembahan persepuluhan berupa persembahan khusus yakni sepersepuluh dari penghasilan umat Israel. Persembahan atau korban yang disebutkan di atas, dinyatakan dengan pemberian hewan ternak (dari mulai lembu jantan hingga burung tekukur atau anak burung merpati yang tidak bercela), tepung, minyak, kemenyan, dan garam. Inilah ritual pemberian persembahan dalam Perjanjian Lama.

Mengapa Allah Menuntut Persembahan Binatang Dalam PL

     Allah menuntut persembahan binatang supaya umat manusia dapat memperoleh pengampunan bagi dosa-dosa mereka (Imamat 4:35; 5:10). Persembahan binatang adalah tema penting dalam Kitab Imamat. Ketika Adam dan Hawa berdosa, Allah mengorbankan binatang untuk menyediakan pakaian bagi mereka (Kejadian 3:21). Kain dan Habel membawa persembahan kepada Allah. Persembahan Kain tidak diterima karena dia mempersembahkan buah-buahan sedangkan persembahan Habel diterima karena dia mempersembahkan "anak sulung dari kambing dombanya" (Kejadian 4:4-5).[7] Setelah banjir surut, Nuh mempersembahkan binatang kepada Allah. Persembahan Nuh ini merupakan bau harum yang menyenangkan Tuhan (Kejadian 8:20-21). Allah memerintahkan Abraham untuk mempersembahkan Ishak anaknya. Abraham taat kepada Allah, namun ketika Abraham siap mempersembahkan Ishak, Allah campur tangan dan menyediakan seekor domba jantan untuk mati menggantikan Ishak (Kejadian 22:10-13).
Menurut Imamat 1:1-4 ada prosedur tertentu yang harus diikuti. Pertama-tama, binatang tsb. harus tak bercacat. Kemudian orang yang mempersembahkan harus mengidentifikasikan dirinya dengan binatang itu.
Kemudian orang yang mempersembahkan harus membunuh binatang itu. Ketika dilakukan dengan iman, persembahan ini menyediakan pengampunan untuk dosa-dosa. Korban persembahan lainnya disebut Hari Pendamaian digambarkan dalam Imamat 16 melukiskan pengampunan dan penghapusan dosa. Imam Besar mengambil dua domba jantan untuk korban penghapus dosa. Salah satu dari domba tersebut untuk dikorbankan sebagai korban penghapus dosa bagi seluruh umat Israel (Imamat 16:15) sementara domba satunya dilepaskan di padang gurun (Imamat 16:20-22). Korban penghapus dosa menyediakan pengampunan sementara domba yang lain itu menyediakan penghapusan dosa. Dengan demikian mengapa Allah menginginkan korban dalam Perjanjian Lama karena pada waktu itu bangsa Israel melakukan dosa, sebab jika ada dosa maka Allah akan murka terhadap bangsa tersebut.

Makna Korban Dalam Perjanjian Baru

Berbeda dengan yang dijelaskan di atas, Perjanjian Baru menegaskan pemberian persembahan berupa ternak atau barang lainnya bukan lagi sebagai jalan penebusan dosa atau kesalahan umat percaya. Kitab Ibrani menuliskan dengan jelas, "tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba betina dapat menghapus dosa" (Ibr. 10: 4). Penebusan dosa orang percaya dalam Perjanjian Baru hanya dapat dilakukan melalui iman dengan mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya; maka melalui tubuh dan darah-Nya yang tersalib di Golgota hal itu sudah menjadi jalan penebusan dosa-dosa kita. Namun, Perjanjian Baru tidak langsung meniadakan persembahan sama sekali.
Persembahan dalam konsep Perjanjian Baru menjadi berbeda, tidak lagi sebagai korban, melainkan sebagai ungkapan rasa syukur atas anugerah keselamatan yang telah diberikan Tuhan kita atas penebusan dosa tersebut. Artinya, pemberian tersebut adalah sebagai ungkapan syukur, bukan balas jasa, karena anugerah keselamatan yang diberikan Allah adalah cuma-cuma, tidak dapat dibalas dengan perbuatan atau upaya manusia. Jadi pengertian "membalas kebaikan Tuhan" sebagaimana dalam Mazmur di atas, dalam konteks Perjanjian Baru adalah merupakan respon atas rasa syukur penebusan tersebut, bukan dalam pengertian timbal balik.

Bentuk-Bentuk Persembahan Korban Dalam PB
Penggenapan dari Makna Korban PL

Setelah penulis memaparkan beberapa contoh dalam makna korban PL tersebut. Selanjutnya, persembahan di dalam kitab Perjanjian Baru cukup luas pembahasannya dan dapat dikategorikan dalam lima bentuk, yakni Sebagai berikut[8]:
Pertama, persembahan nyawa. Tuhan Yesus berkata bahwa inilah ungkapan kasih yang lebih besar dari umat percaya, yakni apabila seseorang yang mengorbankan nyawa untuk kemuliaan Kristus maupun untuk saudara-saudara kita (Mat. 10: 39; Luk. 14: 26; Yoh. 15: 13; Kis. 15: 26). Hal ini diperlihatkan dalam kisah Stefanus, martir pertama yang dibunuh oleh kaum Farisi dengan melemparinya dengan batu (Kis. 7: 54 - 60). Pengorbanan nyawa untuk sesama dinyatakan dalam 1Yoh. 3: 16, "Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita." Kesediaan berkorban dan menderita bagi orang lain dengan mengesampingkan kepentingan diri sendiri, itulah makna dari persembahan nyawa tersebut.
Kedua, persembahan tubuh, yakni memelihara kekudusan hidup dengan menjauhkan diri dari perbuatan najis dan dosa yang tidak berkenan kepada Tuhan. Firman-Nya berkata, "Karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Allah, aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembahan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati" (Roma 12:1; Yakobus 1: 27b).
Ketiga, persembahan hati dan mulut, dengan menaikkan puji-pujian dan bibir yang memuliakan Allah dengan ucapan syukur (Ibrani 13: 15; Mazmur 28: 7; 30: 4; 51: 19). Kitab Efesus menuliskan, "dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian, dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati" (Efesus 5: 19 - 20). Alkitab juga mengingatkan, dengan lidah kita memuji Tuhan (Yakobus 3: 5). Artinya, di segala tempat dan situasi kita tidak boleh menggunakan lidah dan mulut kita untuk hal-hal yang menyakitkan hati Allah dan orang lain, tetapi justru dipakai untuk memuliakan Dia.
     Dalam kelima bentuk inilah yang menjadi penggenapan korban dalam Perjanjian Lama kepada Perjanjian Baru yang mana, Kristuslah yang menjadi korban untuk menghapus kita dari segala dosa-dosa, dan pengorbannya sekali dan untuk selamanya. Setelah itu, makna korban dalam Perjanjian Baru digenapi selain Kristus, yaitu kita harus mempersembahkan sama seperti yang sudah dipaparkan dalam bentuk-bentuk korban dalam Perjanjian Baru.


BAB III
KESIMPULAN DAN APLIKASI

     Dari kitab PL kita dapat mempelajari bahwa Yesus Kristus adalah Anak Domba Allah. Pada masa itu, domba digunakan sebagai korban penghapus dosa (korban yang dibunuh dan diletakkan di atas mezbah) yang sifatnya tidak kekal (karena harus dilakukan setiap tahun). Tetapi Yesus yang adalah Allah sendiri turun ke dalam dunia menjadi Anak Domba untuk dikorbankan sebagai penghapus dosa yang sifatnya kekal, karena dilakukan satu kali untuk selamanya. Di samping itu, kita juga dapat mempelajari bagaimana kitab PL telah berbicara mengenai prosesi kedatangan Anak Domba Allah ke dalam dunia dan bagaimana kitab Perjanjian Baru menunjukkan bahwa nubuat-nubuat ini digenapi dalam diri Yesus Kristus. Kita perlu ingat bahwa para nabi PL hidup dan berbicara ratusan tahun sebelum Yesus lahir. Mereka berbicara sebagaimana Tuhan mengajar mereka melalui Roh Kudus. Dan hal-hal yang mereka katakan itu benar-benar terjadi.
     Aplikasinya Bagi kita ialah menyadari bahwa pengorbanan Kristus Diatas kayu salib adalah salah satu bukti bahwa Yesus menggenapinya untuk menghapus dosa kita semua. Jika kita pelajari sistem pengorbanan dalam Perjanjian Lama adalah bukti bagaimana cara umat manusia untuk bisa mendekati Allah yang kudus, sedangkan manusia berdosa. Oleh sebab itu kita harus sadar akan pengorbanan Kristus sebagai penggenapan korban yang menghapus dosa kita semua. Dan kita mau berkorban untuk Kristus, dalam artian rela melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan-Nya dan mau meninggalkan segala hawa nafsu dunia kita untuk hidup baru dan terus melakukan yang terbaik dalam perkataan, perbuatan, dan pikiran kita hanya untuk memuliakan Kristus yang mau menjadi korban untuk kita semua agar kita tidak binasa.



  [1]Dennis Green, Pengenalan Perjanjian Lama,(Malang: Gandum Mas, 1992), hlm. 35

  [2]Gerhard F Hasel, Teologi Perjanjian Lama: Masalah-Masalah Pokok Dalam Perdebatan Saat ini, (Malang: Gandum Mas, 1992), hlm.23
 [3]John Rogerson, Studi Perjanjian Lama Bagi Pemula, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997), hlm. 35

   [4] Tafsiran Alkitab Masa Kini, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983), hlm. 190
  [5]Samin H. Sitohang, Kasus-Kasus Dalam Perjanjian Lama, (Bandung: Kalam Hidup, 2005), hlm. 34
  [6] Ensiklopedia Alkitab Masa Kini (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/ OMF,  2007), hlm. 575
  [7]William Dyrness, Tema-Tema dalam Teologi Perjanjian Lama (Malang: Gamdum Mas, 2009), hlm. 98
  [8] Ibid, hlm. 35


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar